Bali dan Pradoks Masyarakat Lokal


Judul Buku : Bali yang Hilang; Pendatang, Islam dan Etnisitas di Bali
Penulis : Yudhis M. Burhanuddin
Penerbit : Impulse dan Kanisius
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 213 halaman

Bali tempo dulu dan bali masa kini adalah dualisme paradoks wajah Bali yang hendak dikemukakan dalam buku ini. Dengan merujuk sejarah kerajaan Jawa-Bali dan karya-karya etnografis tentang Bali dari antropolog asing, wajah Bali tempo dulu digambarkan penuh gairah dan pesona. Orang Bali, alam, budaya, dan agamanya dalam khazanah pariwisata lebih menjadi objek daripada subjek karena pertautan keempatnya semata-mata merupakan aset pariwisata Bali.

Antropolog Barat misalnya, menemukan Bali sebagai sebuah pulau, dimana budaya dan alam saling berpautan erat, tempat tinggal sebuah masyarakat mapan dan harmonis yang secara berkala digairahkan ritus-ritus yang memesona. Alamnya menyajikan keindahan Bali dalam warga gaib tridatu dan kilauan sunset dewata nawa sanga yang menggetarkan rasa-agama-budhi. Kebudayaan Bali yang diwarnai pernik-pernik yadnya menawarkan keramahan orang Bali khas Bhakti dalam tatanan dan tuntunan santun sarat pesona melalui jalinan tattawa-susila-acara. Keterpaduan antara kelimpahan upacara, kesenian dan pemandangan hijau menggambarkan ciri arkais kebudayaan Bali.

Melimpahnya kegiatan ritual dan seni orang Bali menurut Mead dan Bateson (Picard, 2006) patut dilihat sebagai gejala yang harus dibahas dalam kerangka psikologis-kultural. Di mata mereka, kebudayaan Bali menjadi semacam sistem pengatur dorongan-dorongan naluri yang menimbulkan sejenis skizofrenia-kultural. Pada kenyaannya, dalam pengalaman empiris kehidupan sehari-hari jalinan antara agama Hindu dan kebudayaan Bali telah menjadi panduan bagi sikap dan perilaku orang Bali. Dengannya orang Bali membentuk suatu keyakinan. Kebudayaan itu merupakan blue-print karena kebudayaan itu dijadikan pedoman tingkah laku. Religius dalam bingkai yadnya telah melahirkan harmoni kehidupan mengagumkan sehingga Bali layak dijadikan objek pemuas selera manusia modern.

Bali masa kini merupakan gambaran sebaliknya, dengan diwakili dua wajah pariwisata Bali sekitar kawasan Kuta (Samingita: Seminyak-Legian-Kuta) dan Sanur, Badung dan Denpasar. Coreng-moreng iklan dan reklame menghiasi ruang-ruang publik, ekpresi “kebinatangan” manusia jalanan dalam carut-marut lalu lintas jalan raya, pojok-pojok remang-remang pertamanan kota, adu nasib lewat ayam-ayam jago, adu takdir melalui nomor-nomor gelap, tawar menawar harga diri sepanjang sisi gelap jalanan, dan sudut-sudut kafe kapitalistik melengkapi gambaran buram wajah Bali pada masa kini. Bali yang renta dalam semangat-keperkasaannya, lusuh dalam kegairahannya, dan lesu dalam ketegarannya.

Tegangan paradoks ini, seperti fisik-psikis atas-bawah, dan pusat-pingirang menjadi gaya pengungkapan Yudhis M. Burhanuddin dalam buku Bali yang Hilang; Pendatang, Islam dan Etnisitas di Bali ini, tentang implikasi psiko-sosio-budaya pariwisata Bali pascabom Kuta terhadap pendatang dalam pergulatan keagamaan dan etnisitas. Pada kawasan Sanur dan Kuta, ketiga konsep utama digambarkan pada posisi paradoks, antara pendatang dan penduduk asli, Islam dan Hindu, serta etnisitas dan nasionalitas. Pada dasarnya ini merupakan pengungkapan fungsi laten pariwisata Bali pascabom Kuta, antara lain meliputi tanggapan dan sikap orang Bali-konservatif, moderat, dan progresif-terhdap pendatang dalam konteks keagamaan dan etnisitas.

Penelusuran serius dan sungguh-sungguh melalui ide-ide kesejarahan dan eksplorasi kancah yang mendalam-yang menurut penulis peneliti teoretis-akademis-paling tidak telah memberikan fragmentasi pergumulan sosial dan budaya dalam pengalaman langsung antara orang Bali dan pendatang seputar agama dan etnisitas.

Hal ini memang tampak jelas sejak awal perbincangan yang dimulai dari bagian pertama dengan judul Pertahankan Citra, “Gugat” Pendatang. Bagian pertama ini lebih merupakan gamabaran paradoks antara budaya induk dan budaya jalanan. Budaya induk digambarkan merupakan tradisi yang telah mapan dalam kultur dan struktur yang hidup dan berkembang melalui sekaa-sekaa fungsional, banjar, dan desa pakraman. Lembaga-lembaga adat ini dipandang sebagai citra kemapanan, seperti antara lain keamanan dan kedamain termasuk ketenteraman, situasi mana pariwisata Bali bersandar.

Sebaliknya, budaya jalanan merupakan anak turunan dari budaya induk berupa “anak yang tidak diharapkan” karena memiliki sifat-sifat yang tidak sama, bahkan secara normatif dianggap menyimpang dari budaya induknya yang dianggap baku, formal, dan mapan. Burhanuddin memberikan contoh suburnya perkembangan premanisme dalam dua kawasan wisata tersebut. Di antara budaya ini pariwisata Bali dipertaruhkan karena pariwisata lebih ditempatkan pada posisi ideologis, yakni seni bertahan hidup dan pengumpulan kekayaan, baik bagi penduduk asli maupun pendatang. Pada dasarnya ini merupakan dampak dari proses modernisasi dan globalisasi yang memang tidak dapat dihindari. Ini juga mendorong terjadinya estetisasi dan komudifikasi kehidupan secara meluas. Karena itu “perang” antara idealisme dan materialisme tidak dapat dihindarkan.

Pengaruh modernisasi dan globalisasi melalui industri pariwisata terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat menjadi perhatian serius Burhanuddin. Dalam dua kawasan wisata, Kuta dan Sanur, digambarkan keterpinggiran penduduk lokal akibat kalah “perang-melawan” pendatang dalam berbagai sektor terutama sektor ekonomi. Kekalahan penduduk lokal dari pendatang disebabkan beberapa faktor yang sekaligus menjadi indikator perubahan karakter orang Bali, antara lain seperti berikut.

Pertama, karena ketidaksiapan dan ketidakmampuan orang Bali untuk bersaing dengan pendatang baru. Kedua, persaingan dan pemilihan antara kategori beroposisi telah membentuk karakter lebih lagi sikap itu dijustifikasi melalui simbol kultural. Ketiga, perubahan karakter orang Bali juga dipengaruhi oleh proses monetarisasi. Keempat, banyak institusi sosial dan kultural mulai tidak mampu memerankan fungsi-fungsi manifes, malahan cenderung hanya menjadi media untuk menghidupkan “keagungan fisikal masa lalu”. Kelima, sekalipun wanaca mengenai pentingnya kebudayaan sebagai “panglima” pembangunan Bali, tetapi dalam implementasinya alokasi biaya untuk kepentingan itu belum sesuai dengan wacana dan harapan. Selain kelima faktor eksternal tersebut perubahan karakter orang Bali juga disebabkan karena secara internal orang Bali sendiri memiliki potensi terbuka dengan perubahan dan mengakui perubahan itu sebagai suatu titah yang harus diikuti.

Keterbukaan orang Bali terhadap pendatang memang tidak ada salahnya, tetapi sikat permisif yang berlebihan pada gilirannya menimbulkan permasalahan ikutan, seperti ketakstabilan daya dukung ruang, menurunnya kualitas ekologi, populasi penduduk tak terkendali, persaingan hidup semakin ketat, politik identitas menjadi bagian integral dari eksistensi diri, ruang-ruang sosial semakin padat interaksi dan integrasi soail semu, otonomi sosial dan diferensiasi budaya terjadi secara meluas. Implikasi ini dijelaskan dalam berbagai fenomena perilaku menyimpang secaca psiko-sosial yang mengindikasikan terjadinya penurunan dimensi moralitas dan humanitas.

Komentar

Entri Populer