Jumat, 27 Maret 2015

Orasi Ilmiah; Upacara Prosesi Pelepasan Calon Sarjana FITK UIN Suka 2015

Orasi Ilmiah: Pelepasan Calon Sarjana FITK UIN Suka 2015

Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirrobilalamin. 
Puji Syukur ke hadirat Allah SWT, saya bisa berjumpa dengan bapak/ibu di hari yang luar biasa ini
Suatu kehormatan bisa berbicara di depan calon Wisudawan(i) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 
Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Salawat serta salam semoga tetap mengalir kepada junjungan Nabi Besar, Muhammad SAW

Yang Saya Hormati...
Bapak Dr. Tasman, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Suka
Bapak Dr. Sabarudin, pembantu Dekan III
Para Dosen, Civitas Akademik, Wali, serta para calon Wisudawan(i) yang saya banggakan 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarkatuh

Teman-temanku, peserta calon Wisudawan/Wisudawati yang saya banggakan. Sebelum saya menyampaikan pokok bahasan pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan beberapa hal. Pertama, Tahukah kalian? saya sudah menunggu untuk menyampaikan pidato ini selama tiga tahun lamanya :) Tiga tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2012, saya duduk di ruangan ini bersama bapak saya, Moh Saleh, untuk mengikuti upacara prosesi pelepasan calon Wisudawan/Wisudawati Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, seperti yang diadakan sekarang ini.

Kedua, tahukah kita? meski UIN Sunan Kalijaga dalam pembiayaan kuliah terbilang murah, tapi kampus kita ini termasuk dalam 20 kampus terbaik Indonesia. Kita patut berbangga. Maka saya yakin para calon sarjana dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan adalah calon sarjana terbaik Indonesia, khususnya di bidang Pendidikan Islam. Tahu tidak? Saya ingin masuk kampus ini sejak kelas dua di SMA Annuqayah tahun 2005. Meskipun saya tidak bisa langsung kuliah ketika lulus SMA pada tahun 2006, karena kendala biaya, tapi saya tetap semangat mengejar cita-cita saya untuk bisa kuliah di kampus ini. Alhamdulillah tahun 2008 saya diterima pada jurusan KI Fakultas Tarbiyah, yang sekarang menjadi jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Maka pada kesempatan ini, saya akan katakan bahwa, saya bersyukur bisa jadi alumni Fakultas FITK UIN Suka. 

Ketiga, Saya sangat bangga dengan almamater Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. Tiga tahun enam bulan saya belajar dan berproses di sini. Bukan saja saya dimudahkan dalam perkuliahan, berkat dukungan FITK UIN Suka, lewat bapak Sabaruddin, PD III waktu itu, saya mewakili UIN, bisa mengikuti the 15th UNESCO-APEID International Conference yang diadakan UNESCO; Ministery of Education and Culture, Indonesia and World Bank Indonesia pada tahun 2011. Saya juga difasilitasi di dalam pembiayaan transportasi dan akomodasi dalam mengikuti lomba-lomba dan persentasi finalis lomba karya tulis ilmiah, seperti halnya ketika saya menjadi finalis di IPB dalam Sayembara Essai IPB’s Dedication for Education tahun 2011. Berkat kampus ini pula, tahun 2010 saya mendapatkan beasiswa Djarum Foundation dan menjadi komentator terbaik lomba blog Beswan Djarum waktu itu. Sekali lagi saya tegaskan, saya bangga dengan almamater tercinta ini, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. 

Di tengah saya berproses di almamater tercinta ini dari tahun 2008 sampai 2012, saya ingat betul bahwa tulisan saya dalam bentuk resensi buku atau artikel dimuat di beberapa koran nasional, seperti Media Indonesia, Seputar Indonesia, Koran Jakarta, Bernas Jogja, Surabaya Post, Bali Post, Lampung Post dan di Majalah Suluh dan Majalah Flamma. Juga tulisan saya dalam bentuk kompilasi berjumlah tiga buah di terbitkan dan terakhir dari skripsi saya kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Peace Education dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam. Maka saya banyak berterima kasih kepada seluruh dosen saya di kampus ini. Utamanya kepada sang inspirator almarhum Pak Agus Nuryatno-beliau seringkali menyemangati saya bahkan di kala saya bertugas menjadi Pengajar Muda, Ibu Nur Rohmah, Pak Misbah, Ibu Juwariyah, Pak Mara dan banyak dosen yang lainnya. Di samping itu, saya juga belajar dari dosen-dosen di fakultas yang lain, seperti  pak Musa- ketika diskusi di pendoponya, pak Amin-lewat bukunya, pak Yudian-yang sempat mengajar saya di pondok Nawesea, pak Sahiron-lewat diskusi bersama, dan dosen penyelenggara diskusi dosen Jumat malam. Tak lupa pula saya ucapkan terimakasih kepada Pak Riduan Zain, yang telah memberikan rekomendasi kepada saya untuk mengikuti IELSP, Program Pertukaran Pelajaran ke Amerika, meskipun waktu itu saya tidak lolos karena nilai bahasa Inggris saya belum cukup. Ingatlah teman-teman, Kampus ini dipenuhi dosen-dosen, guru yang luar biasa. Saya yakin lulusan dari FITK juga akan menjadi orang yang luar biasa. 

Baiklah saya akan memulai beberapa pokok bahasan pada kesempatan kali ini, dengan tema “MENJADI SARJANA PENDIDIKAN ISLAM YANG HEBAT”.

Pertama, menjadi sarjana adalah awal perjalananmu untuk meniti karir. Ingat, Awal! Ada tiga bidang kerja yang kamu bisa masuki nantinya; Pertama, Private Sector; seperti halnya bekerja di perusahaan; Kedua, Public Sector; seperti halnya Pegawai Negeri di kantoran dan yang ketiga; Third Sector; seperti halnya LSM dan Akademisi. Jangan Pernah ragu bahwa ijazahmu dari lulusan FITK tidak akan laku untuk bekerja di tiga sektor tersebut. Saya sendiri mencobanya, tanggal 22 Desember 2015 saya lolos seleksi tahap pertama dan kedua di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bagian Badan Penelitian dan Pengembangan. Padahal di situ disyaratkan untuk jurusan Pendidikan Agama Islam. Tapi saya coba saja dan ternyata lolos tes pertama dan kedua. Administrasi saya lolos. Cuma karena tes berikutnya berbarengan dengan kegiatan Indonesia Mengajar, akhirnya saya memilih tidak melanjutkan tes saya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena saya masih terikat kontrak dengan IM. Jauh sebelumnya, waktu saya masih sering mengikuti lomba karya tulis ilmiah saat mahasiswa, apabila panitia mengisyaratkan adanya uang pendaftaran, jika tidak punya uang saya bilang saja “Saya tidak punya uang”, dan naskah tetap saya serahkan. Ternyata buktinya saya masuk menjadi finalis. Saya jadi teringat pesan Bill Gates saat berpidato di Harvard University, dia berpesan “Don’t let complexity stop you. Be activists. Take on the big inequities. It will be one of the great experiences of your lives.” Maka pesan saya, optimislah bahwa dengan fakultas kita yang mendapat akreditasi A, dibarengi usaha kita yang maksimal, pastilah kita akan bisa bekerja di lembaga-lembaga besar. OPTIMIS! 

Kedua, don’t be afraid to try everything what do you want to do and what do you want to be. Mulailah merancang dan memantapkan mimpi atau cita-citamu, who do you want to be? Not what? dan apa yang harus kamu lakukan? Mulailah berpikir keras mulai sekarang. Bercita-citalah yang tinggi. Saya berharap lulusan dari FITK bukan hanya menjadi guru biasa. Tapi jadilah guru inspiratif, yang bisa menginspirasi siswa beserta lingkungannya. Lebih dari itu, saya mengharapkan lulusan dari sini, agar bisa menjadi penggerak di tempat kerja masing-masing. Jangan hanya membebek. Tapi jadilah penggerak yang bisa menginisiasi, menggerakkan, dan menjadi teladan. Contoh, saya bersama tim di tempat bertugas tidak hanya mengajar di sekolah tapi melakukan tugas ekstra kurikuler, kegiatan kemasyarakatan, dan pelibatan daerah (advokasi). Saya bersama tim mendorong Kelompok Belajar Indonesia Mengajar (KBIM), Penyala Makassar (gerakan mengirimkan buku ke sekolah-sekolah di pelosok), Kelas Inspirasi Bupati, Lampung Mengajar, TBB Cerdas. Indonesia Mengajar pun mengedepankan konsep sustainability (keberlanjutan), makanya meskipun sudah tidak ada pengajar muda di sana, kami sudah mendesain bagaimana agar rancanan yang telah kita lakukan terus berkesinambungan. Saya tidak pernah lelah mengajak murid saya untuk bermimpi besar bahkan kepada masyarakat di sekitar. Maka, pesan saya, tidak usah takut mengejar mimpimu teman-teman. Fear kills your dream, fear kills your hope, fear is what peope in hospital. So be brave! BERANI! 

Ketiga, lakukan dengan totalitas. Lakukan dengan sungguh-sungguh apa-apa yang menjadi tugasmu. Man jadda wajada. Jika kamu mampu melakukannya dengan baik di awal, saya yakin kamu akan mendapatkan hasil yang baik pula. Dulu waktu saya KKN, saya mendaftar Forum Indonesia Muda dengan seadanya, kemudian saya mengajak teman saya Amri, dia menggarapnya dengan baik, eh malah dia yang diterima. Akhirnya pada kesempatan berikutnya saya menggarapnya dengan serius, akhirnya saya pun diterima. Begitupun ketika saya mendaftar Indonesia Mengajar, saya menggarapnya dengan serius. Saya menjadi salah satu dari 52 pengajar muda angkatan lima yang terpilih dari enam ribu lebih pelamar. Bahkan saya menjadi pengajar muda yang diterima kembali di angkatan ke tujuh. Saya adalah satu-satunya pengajar muda yang disyuting dua kali oleh NET Mediatama di dua tempat penugasan. Dari sini kiranya relevan mengutip kalimat dari JK Rowling, pengarang buku Harry Potter ketika berpidato Harvard Univeristy, “It is impossible to live without failing at something. Failure gave me an inner security that I had never attained by passing examinations. Failure taught me thing about myself that I could have learned no other way”. Ketika saya mengisi form pendaftaran Indonesia Mengajar, saya menulisnya selama lima hari, ketika saya lolos tahap Direct Assesment, saya meminjam buku spikotes ke teman di Sanata Dharma, saya konsultasi dengan teman dari UGM yang pernah jadi Pengajar Muda. Ingat pesan saya, TOTALITAS! 

Keempat, terus tingkatkan kualitas diri. Hal ini bisa juga dilakukan di luar kampus, meningkatkan skill kita. Di sela-sela betugas di penempatan saya belajar editing video dan menjadi trainer keliling ke beberapa sekolah bahkan saya diminta dua kali mengisi di Univeristas Megowpak ketika tugas di Lampung. Sedang sebulan terakhir, saya mengisi pekan ilmiah untuk semua mahasiswa prodi PGSD di Universita Muhammadiyah Magelang, saya diminta bercerita mengenai pengalaman saya selama bergabung dengan gerakan Indonesia Mengajar. Di kala, saya akan pulang dari acara tersebut, Kaprodinya bilang sama saya “Mas jika tertarik ngajar di sini, masukkan berkasnya!”. Dari situ saya berkesimpulan bahwa “Apabila kita punya kualitas diri yang baik maka dimanapun kita berada pastilah orang membutuhkannya”. Satu contoh lain, setelah saya berlatih terus dalam bidang kepenulisan, kemudian saat akhir kuliah saya menggarap skripsi selama dua bulan dengan serius. Selama satu bulan penuh saya membaca dan mengumpulkan bahan, saya keliling ke perpustakaan-perpustakaan yang ada di Jogja. Terus selanjutnya saya menulisnya satu bulan penuh dengan serius, akhirnya skripsi saya layak untuk diterbitkan menjadi buku. Maka pesan saya, TINGKATKAN KUALITAS DIRI. 

Kelima, belajarlah terus. Sabda Nabi Muhammad, tolabul ilma minal mahdi ilallahdi dan tolabul ilma walau bissin. Dari situ kita bisa mengambil pemahaman bahwa tidak pernah ada batas usia untuk belajar bahkan tidak berbatas tempat. Dimana saja kita bisa belajar. Sehingga jika teman-teman di sini nantinya sudah bekerja, ingatlah untuk tetap belajar. Saya juga menyarankan bagi yang ingin melanjutkan S2 untuk kemudian mengejar beberapa beasiswa yang ditawarkan pemerintah Indonesia, pemerintah luar negeri, universitas dalam negeri dan universitas luar negeri. Ayo kejar kuliah dengan beasiswa ke luar negeri. Contoh beasiswa yang sangat terbuka untuk kita adalah beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Beasiswa dari Luar Negeri seperti beasiswa Australian Award, Beasiswa Erasmus Mundus-Eropa, Beasiwa Fulbright, Beasiswa Pemerintah Turki, Beasiswa Chievening dan masih banyak yang lainnya. Saya sendiri akan mencoba beasiswa LPDP pada bulan April ini. Alhamdulillah kemarin lusa sudah tes TOEFL ITP dan sedang kursus IELTS, minta doanya semoga dilancarkan. Steve Job ketika memberikan pidato di Stanford University berpesan “The only way to do great work is to love what you do. If you haven't found it yet, keep looking, and don't settle. Stay hungry, stay foolish”. Ingat, BELAJARLAH TERUS! 

Keenam, dimana pun teman-teman berada, jadilah agen berubahan. Barrack Obama pernah bilang di depan jutaan pendukungnya di Amerika serikat waktu kampanye, “If you can change the city, you can change the state. If you can change the state, you can change the Nations. If you can change the Nations, you can change the world. One voice “Change the World”. Dalam kata lain yang lebih sederhana, saya akan bilang “Jika kamu bisa merubah dirimu, kamu akan bisa merubah keluargamu, jika kamu bisa berubah keluargamu, kamu akan bisa merubah komunitasmu dan seterusnya. Maka mari mulailah dari diri sendiri menjadi agen berubahan. JADILAH AGEN PERUBAHAN! 

Ketujuh, jadilah pemimpin. Dua puluh tahun ke depan, kitalah yang memungkinkan akan memimpin Indonesia di segala sektor, utamanya di sektor pendidikan. Saya berharap teman-teman tidak hanya menjadi guru biasa. Tapi jadilah pemimpin di lembaga masing-masing. Dengan menjadi pemimpin di tempat masing-masing kita bisa melakukan banyak hal, dan bisa melakukan perubahan yang lebih banyak. Sangat mengembirakan jika seandainya dari teman-teman di sini kelak ada yang bisa menjadi pemimpin tertinggi di tingkat pendidikan, semisal menjadi menteri pendidikan, kepala dinas pendidikan provinsi atau kabupaten, rektor, kepala sekolah dan seterusnya. Setidaknya dengan kita menjadi pimpinan di segala sektor, kita punya nilai tambah, yaitu kita sedikit banyak memahami pendidikan dalam perspektif Islam. Waktu saya terjun di daerah Sulawesi Barat dan Tulang Bawang Barat Lampung, selain aktif di dunia pendidikan formal, saya juga aktif di dalam komunitas kemasyarakatan. Sebagai lulusan UIN saya diminta oleh masyarakat menjadi penceramah di Majelis Taklim, Jumatan, Idul Adha, dan Idul Fitri. Tawaran itu tentu menjadi kesempatan yang baik, makanya saya selalu mengiyakan segala permintaan masyarakat. Maka, pesan ketujuh, SIAP MENJADI PEMIMPIN. 

Teman-tema sekalian. Bukan waktunya lagi sekarang kita bicara soal perbedaan organisasi, perbedaan latar belakang kepercayaan, latar belakang suku, latar belakang bahasa, latar belakang daerah dan lain-lain. Sudah saatnya kita bilang, “Kita adalah alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang ingin memajukan pendidikan Indonesia. Memajukan pendidikan Islam”. Pesan terakhir dari saya; semangatlah terus mengejar cita-citamu setelah menyandang predikat sarjana strata satu. Follow your heart, follow your passion. Don’t give up, try, try and try, until you get what do you want to be. You can learn from your mistake and you can learn from your failure. I wish you all the best with your future studies and your future works. Selamat teman-teman, semoga kesuksesan menyertaimu. Terimakasih banyak. 

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...