Etika, Politik dan Postmodernisme


Judul Buku : Postmodernisme
Penulis : Kevin O’donnell
Penerbit : Kanisius
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 164 halaman

Para filsuf berusaha mendasarkan etika pada masyarakat atau pada jiwa rasional. Etika merepresentasikan tradisi sosial, yang membentuk dan membimbing kita, atau ditulis ke dalam bangunan alam semesta dan dapat dilihat dalam hati nurani individu sebagai sesuatu yang terberi.

Aristoteles mensugestikan bahwa etika merupakan hasil dari hidup dalam masyarakat. Orang yang baik adalah orang yang menyumbangkan keterampilannya dan bekerja sama. Keutamaan dikembangkan dan menjadi kebiasaan. Namun, Sokrates mengusik manusia untuk mempertanyakan nilai dan hukum negara. Hal-hal ini harus didasarkan pada rasio, bukan pada permainan kekuasaan dan prasikap, supaya adil dan benar, dan karena itu layak disepakati.

Etika dalam tradisi ini, lebih merupakan urusan internal dan reflektif, yang mencari penyelesaian yang rasional dan paling jelas. Konflik antara kedua posisi ini disebut perbedaan antara ‘yang ada-dan yang seharusnya’.

Para penganut utilitarisme berpendapat bahwa yang ‘baik’ adalah yang dapat dikerjakan dalam tiap situasi, sekaligus memperhitungkan pro dan kontra. Semboyan mereka adalah ‘kebaikan terbesar dari sebagian besar rakyat’. Akibat turut diperhitungkan, bukan hanya motif. Kerena itu, etika ditentukan secara sosial dan pada keadaan aslinya, walau ada petunjuk umum/peraturan yang dapat diterapkan. Tetapi dapatkah kita selalu mengaktualisasikan etika dengan berhasil, apabila kita berurusan dengan manusia riil dan perasaannya?

Immanuel Kant berpendapat bahwa ada kemutlakan moral; ada hal yang selalu benar atau salah, tanpa mempedulikan situasi. Ia menamakan ini imperatif kategoris. Jadi, mencuri selalu ingat diri dan menipu selalu salah. Tetapi apa yang terjadi kalau penipu dapat melindungi seseorang yang tidak bersalah dari polisi rahasia? Siapa yang menentukan yang benar?

Postmodernisme menggoyang teori-teori besar, dan upaya untuk mendasarkan etika pada ‘kebenaran’ tetap, tetapi ia juga memberikan sumbangan yang riil. Para filsuf postmodern menekankan bagaimana realitas itu bersifat kemasyarakatan dan relasional.

Dalam buku Postmodernisme ini, Kevin O’donnell melakukan penelitian historis tentang asal usul dan pertumbuhan moralitas. Ia melacak pergeseran fundamental sampai sebelum era kekristenan, sekaligus mempertentangkannya dengan periode klasik. Yang ‘baik’ pada awal dihubungkan dengan yang kuat dan berkuasa, kaum bangsawan.

Kekristenan mengangkat nilai kerakyatan orang kecil atau hamba. Etika ‘belas kasih’ dimasukkan, dengan perasaan kasih sayang kepada orang miskin dan lemah. Inilah batu sendi etika Barat, namun demikian Kevin memandang bahwa hal ini pada akhirnya menganut pendirian antikehidupan, karena ia berjuang melawan ego, melawan perkembangan diri dan kesadaran. Memberi diri Anda sendiri menjadi keutamaan, dan bukannya mengembangkan diri. Keberanian menjadi kesombongan, kebanggaan menjadi cinta diri, dan kesehatan direndahkan demi nilai penderitaan, yang ‘baik bagi jiwa’.

Etika Postmodern?

Mungkinkah etika dalam pemikiran postmodern, dimana semua yang pasti dan otiritas dipertanyakan? Jenis politik manakah yang mungkin, di balik anarkisme atau quietisme dan kemasabodohan?

Bagi para postmodernis, semua adalah tafsiran, yang dibuat melalui indra konseptual manusiawi kita. Realitas apa adanya, kebenaran dalam kemurniannya, tidak dapat hadir di depan kita. Itulah keadaan manusia atau keadaan postmodern. Sering hal ini dipahami sebagai lengsernya makna itu sendiri, yang menghasilkan relativisme yang sangat ekstrem.

Roger Scruton, filsuf Inggris dan profesor filsafat pada universitas di Boston, dalam naskahnya tahun 1994 Modern Philosofhy, An Introduction and Survey, menghantam Derrida dan orang lain karena takut akan relativisme moral; dengan membuktikan bahwa semua hukum dan larangan, semua makna dan nilai, semua yang menyulitkan, melingkupi atau membatasi kita dalam penemuan diri kita sendiri, setan memperkuat kepercayaan bahwa segala sesuatu diperbolehkan, kalau begitu godaan menjadi seorang pembebas tak terelakkan.

Dengan ‘setan’ ia memaksudkan kekuatan penipuan dan penghancuran, ‘bapa segala dusta’. Ia terus menyerang dekonstruksi sebagai tidak bertanggung jawab; tidak memiliki makna otoritatif tunggal; ada ‘permainan bebas makna’ dan segala sesuatu berlalu. Singkatnya kita dibebaskan dari makna.

Serangan Scruton barangkali mengungkapkan bias analitis-filosofis Anglo-Saxon terhadap Eropa daratan. Ia melangkah terlalu jauh, paling sedikit, ia salah memahami Derrida. Derrida tidak pernah berjuang untuk membuang rasio atau makna. Ini hanya masalah keseimbangan, dan pemberian ruang pada yang emosional dan yang tidak dapat diungkapkan dengan mudah.

Derrida tidak mengajarkan bahwa teks dapat memiliki sejumlah makna ad infinitum seperti kita inginkah. Benar, teks dapat dibaca dengan cara berbeda-beda, tetapi ada sejumlah tafsiran tertentu yang mungkin. Maksud penulis yang disadari, keprihatinan sosial dan ideologi zaman, demikian pula pengalaman kita dalam membaca dan bereaksi terhadap teks, semua ikut berpengaruh.

Maka, apa yang sesungguhnya yang sedang kita baca? Hendaknya kita sadar, kata Derrida. Ia tidak menghancurkan makna. Kalau ada sesuatu yang ia lakukan, maka itulah yang membebaskan teks dari agenda atau ideologi mana pun. Ia mengatakan, “mari kita lihat, apa yang dapat ditemukan dalam teks’.

Derrida menegaskan bahwa metode dekonstruksinya merupakan kegiatan cinta, yang mendorong keluar kebenaran yang jujur dan mengakui posisi yang berbeda-beda. Mengapa kita harus percaya hanya pada apa yang dikatakan untuk kita percaya, atau bertindak seperti yang dikatakan kepada kita.

Kepedulian Postmodern

Banyak pemikir postmodern aktif secara politis dan melibatkan diri dalam masalah etika. Hal ini tampaknya membantah tuduhan relativisme moral, yang biasanya diarahkan pada postmodernisme.

Derrida prihatin mengenai isu perdamaian dan keadilan, dan berbicara tentang dekonstruksi sebagai kegiatan keramahan, dalam arti mengungkapkan selamat datang kepada ‘yang lain’ tidak pandang yang lain, tafsiran yang lain. Keadilan adalah kategori yang menolak dekonstruksi terakhir; bisa saja ada ide yang berbeda-beda tentang apa itu adil, tetapi ‘yang adil’ memang ada. Keadilan menuntut hak kemanusiaan kita.

Komentar

Entri Populer