Meningkatkan Budaya Baca Masyarakat Indonesia

Membudayakan Anak Gemar Membaca (Foto: M Nurul Ikhsan Saleh)

Aktivitas membaca dalam masyarakat sangatlah penting. Ia menjadi salah satu kegiatan bahasa yang amat vital dalam masyarakat modern dan lebih-lebih di kalangan akademisi. Dari sinilah peringatan Hari Buku Nasional yang jatuh pada bulan kemarin, 17 Mei 2012, menjadi penting untuk selalu kita refleksikan, terlebih oleh masyarakat Indonesia.

Dalam masyarakat kita, setiap hari puluhan koran, majalah, bahkan buku-buku selalu diproduksi dan dipasarkan. Di dalam semua jenis media itu akan dijumpai informasi mengenai pengetahuan, berita, lapangan pekerjaan, iklan, dan sebagainya, yang mau tak mau harus diserap oleh masyarakat modern tersebut. Kecuali, jika masyarakat modern tersebut, hanya modern dalam dimensi waktu, bukan modern dalam dimensi kultural. Membaca, sudah seharusnya menjadi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat.

Pengetahuan sebagian besar tidaklah didapatkan dari bangku sekolah atau di bangku kuliah, melainkan melalui buku. Banyak orang mengatakan bahwa buku itu sesungguhnya merupakan universitas yang paling baik, sehingga tidak salah apabila dikatakan bahwa buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Maka keberadaan perpustakaan di sekolah, universitas dan masyarakat sangatlah penting sebagai tempat kagiatan membaca.

Di kalangan akademisi, membaca menjadi jantung kehidupan mereka. Informasi yang diberikan dosen tentu amat terbatas. Untuk memperluas cakrawala akademik mereka, buku merupakan sarana yang mesti diakrabi. Tanpa membaca buku, seorang akademisi akan berjalan di lorong gelap. Analisis yang mereka lakukan terhadap segala persoalan hanya akan bersifat intuitif tanpa teori yang telah diuji kebenarannya melalui pelbagai penelitian. Akibatnya pembahasannya hanya akan seperti orang berbincang di warung kopi atau di tengah padang penggembalaan.

Membaca berarti mengambil atau memahami arti dari bahan cetakan atau tulisan yang ada. Karena itulah sebagai seorang pembaca, ia memerlukan persyaratan tertentu agar ia dapat memahami makna tersebut dengan baik. Ada beberapa saran dari Nurhadi (1987) agar seseorang menjadi pembaca yang baik, yaitu untuk memperlancar proses membaca antara lain meliputi empat modal; Pertama, seorang pembaca harus memiliki modal pengetahuan dan pengalaman; Kedua, seorang pembaca harus memiliki kemampuan berbahasa (kebahasaan); Ketiga, seorang pembaca harus memiliki pengetahuan tentang teknik membaca; Keempat, seorang membaca harus mengetahui tujuan membaca.

Ada satu batasan membaca yang amat komprehensif, yaitu membaca adalah proses mengolah bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi dan dampak bacaan itu. Oleh karena itu, membaca bukan sekadar melafalkan huruf-huruf, tetapi lebih pada kegiatan jiwa untuk mengolah apa yang kita baca. Mengolah dalam arti kita tidak harus menyerap begitu saja isi bacaan tersebut. Seorang pembaca dituntut memiliki sikap kreatif-kritis. Jadi kita harus menerima secara kritis-kreatif apa yang kita baca. Kita harus memikirkan nilai apa yang terkandung dalam bacaan, apa fungsinya, dan yang terpenting apa dampaknya bagi diri sendiri dan bagi masyarakat pembaca secara luas.

Menurut Smith (1973) membaca bukan semata-mata proses visual. Ada dua macam informasi yang terlibat dalam kegiatan membaca. Pertama, informasi yang datang dari depan mata. Kedua, informasi yang terdapat di belakang mata. Informasi yang terdapat di depan mata ialah huruf-huruf. Sedangkan, informasi yang terdapat di belakang mata ialah isi dan pesan yang terkandung dalam bacaan itu. Memahami isi bacaan itu menutut pembaca untuk memiliki kemampuan berpikir dan bernalar.

Budaya Baca Masyarakat
Selama ini selalu ada pernyataan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya baca. Atau dengan kata lain minat baca kita rendah. Benarkah demikian? Akhir-akhir ini ketika saya berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan kampus dan tempat-tempat bacaan buku yang ada di Yogyakarta. Memang benar, bahwa perpustakaan banyak dikunjungi mahasiswa. Hanya saja mereka yang berkunjung ke perpustakaan rata-rata mereka yang sedang mengerjakan tugas makalah dari dosennya, terlebih untuk tugas akhir berupa skripsi, tesis, atau pun disertasi. Untuk menulis pun mereka membaca penelitian yang sudah ada, kemudian mengutip beberapa bagian kajian pustaka dan metode penelitian. Andaikan tidak harus menulis makalah atau tugas akhir, mereka akan terlihat mojok, sambil berbincang berdua (berpacaran). Jadi, motivasi membaca untuk benar-benar mendapatkan ilmu pengetahuan masih minim.

Bagaimana jika ada pertanyaan seperti ini, adakah mahasiswa atau kita secara umum dengan penuh kesadaran membeli buku untuk memperkaya khazanah pengetahuan? Mungkin jawabannya ada, tetapi tidak banyak. Dan yang tidak banyak itu akan berkilah bahwa sekarang ini harga buku mahal. Benarkah mahal? Sebab di sisi yang lain mereka dapat dengan mudah pergi ke mall dengan berbelanja sampai ratusan ribu rupiah bahkan mungkin ada yang mendekati jutaan rupiah. Lebih-lebih dengan kebiasaan mahasiswa atau masyarakat saat ini, yang lebih banyak menghabiskan uangnya untuk membeli pulsa agar bisa facebook-an di mana-mana. Hal itu berarti bahwa penyebab utama bukan pada mahalnya buku tetapi justru pada motivasi yang tidak ada, serta tampaknya buku belum menjadi prioritas dalam hidup masyarakat Indonesia.

Meningkatkan Minat Baca
Dari fenomena di atas, dimana masyarakat kita masih rendah minat bacanya, maka hendaknya minat baca (kegemaran) harus terus ditumbuhkan di kalangan masyarakat, terlebih sejak masih kanak-kanak. Salah satu terobosan baru yang patut ditiru dan diapresiasi adalah sebuah langkah konkret oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) AS dengan membangun perpustakaan bagi anak-anak di Indonesia. Seperti dilansir oleh VOA (Voice of Amerika) Indonesia hari ini, Jumat 22 Juni 2012 berjudul LSM AS Bangun Perpustakaan bagi Anak-anak di Indonesia. Mereka membangun perpustakaan sejak tahun 2009 yang tersebar di beberapa daerah Indonesia, seperti di Padang, Sidoarjo dan Bali.

Sebagai orang Indonesia, kita patut berterima kasih kepada LSM AS tersebut, dengan programnya untuk meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat Indonesia. Karena jika kita ketahui lebih lanjut, bahwa kegemaran membaca bukanlah aktivitas yang tumbuh dengan sendirinya dalam diri setiap anak. Kegemaran membaca merupakan kebiasaan yang harus ditanamkan, dipupuk, dibina, dibimbing, dan diarahkan sejak masih anak-anak. Sehingga ketersediaan bahan pustaka di kalangan masyarakat sangat penting untuk menarik kegemaran membaca. Lewat perpustakaan tersebut, kita berharap kegemaran membaca di kalangan masyarakat terlebih dikalangan anak-anak akan semakin meningkat.

Dengan ketersediaan perpustakaan, perlu juga menjadi perhatian adalah ketersediaan buku yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Bahan pustaka disesuaikan dengan perkembangan psikologi pembaca. Baik yang spesifik untuk bacaan kalangan anak-anak juga bagi kalangan dewasa. Jangan sampai kemudian tertukar. Bahan bacaan untuk kalangan anak-anak bisa dibagi dalam beberapa bagian, seperti yang ditulis oleh Luwarsih (1974), ia menyebutkan ada 3 klasifikasi buku untuk anak-anak, yaitu; Pertama, buku referensi, buku untuk memperoleh informasi; Kedua, buku studi, buku untuk membina pengetahuan; Ketiga, buku referensi, buku untuk menikmati dan menghayati pengalaman. Maka itu, anak-anak hendaknya dilatih untuk memilih jenis-jenis buku yang akan memperluas cakrawala pengetahuan dan pengalaman anak-anak tersebut.  

Terakhir, semoga masyarakat juga pemerintah Indonesia semakin tergugah oleh kerja-kerja sosial seperti yang dilakukan LSM AS untuk lebih giat dalam menyediakan bahan bacaan untuk masyarakat. Menurut VOA Indonesia, sampai bulan Juni 2012 ini, LSM AS tersebut telah mampu membangun 49 perpustakaan bagi anak-anak dan 26 perpustakaan bagi orang tua. Mereka melakukan langkah mulia, demi menggugah budaya baca masyarakat bisa tumbuh. Karena itu, peran serta mereka dalam menyediakan bahan bacaan perlu didukung sepenuhnya oleh masyarakat sekitar dengan mempergunakan perpustakaan yang mereka bangun dengan sebaik-baiknya. Mari membaca! :-)

Komentar

didi AB mengatakan…
budaya membaca.. katanya"budaya kita budaya mendengar dan bertutur kata". bila melihat jauh ke akar masalalu, di era sebelum VOC bermain dgn taringnya, di tanah melayu, baca tulis sudah biasa. namun, kolonialisme meberangus semua hal tersebut. terlalu lama dalam tekanan kolonialisme mungkin cuup membuat bangsa ini lupa dan malas membaca. terllau terbiasa didikte dan mendengar. lantas bagaimana mengubahnya? jawabannya ada pada kita, generasi muda yg akan meribah segalnya.
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Sepakat dengan jawabanmu Didi AB, generasi muda harus merubahnya, semakin gemar membaca dan terus membudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Alangkah bagusnya, apabila kita generasi muda menghabiskan waktu-waktu senggang dengan membaca, baik dikala di lembaga pendidikan (sekolah/kampus) atau di kendaraan umum sekali pun. Apabila kita tengok jauh kebelakang, betapa keberadaan pemuda di Indonesia sangat diperhitungkan, beberapa diantaranya lewat peran sertanya, para pemuda telah melahirkan Sumpah Pemuda tahun 1928, menegakkan kemerdekaan tahun 1945, munculnya ORBA tahun 1966, dan Reformasi pada tahun 1998. So, ayo para pemuda bangkitlah! bangkit dari keterpurukan. Salah satunya lewat membaca dan membaca.
Dedi Wahyudi mengatakan…
mantap sekali tulisannya mas, ayo kita budayakan membaca
Dedi Wahyudi mengatakan…
mantap sekali tulisannya mas, ayo kita budayakan membaca
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Terimakasih Dedi buat apreasiasinya untuk tulisan ini. Mari bersama-sama membudayakan tradisi membaca, terutama dari diri sendiri, terus kemudian kita tularkan untuk teman-teman dan adik-adik di sekeliling kita. :-)
Ariyantika Wulandari mengatakan…
Budaya baca sangat perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia. memperbanyak perpustakaan atau taman baca oleh LSM atau individu bisa menjadi suatu cara efektif untuk meningkatkan budaya membaca. selain itu memulai dari membuat perpustakaan pribadi dirumah juga mrupakan langkah paling mudah dan paling mungkin kita lakukan.
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Betul sekali Ariyantika,kebiasaan membaca seseorang akan meningkatkan pengetahuan seseorang, atau dengan bahasamu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDA), bahkan sering kita dengar bahwa orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang banyak akan ditingkatkan derajatnya oleh Tuhan di antara manusia lain. Iya, perpustkaanlah seperti yang diungkapkan Ariyantika bisa menjadi sarana peningkatan Budaya Membaca. Mengenai perpustakaan pribadi, saya telah melakukannya sejak sebelum kuliah, awalnya saya mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya di kos-kosan saya sebagai koleksi pribadi, dan bersyukur sekarang seringkali dipinjam teman-teman mahasiswa, baik yang hanya sekadar untuk baca-baca atau untuk pelengkap bahan penelitian. So, mari membuat gerakan gemar membaca! Terimakasih buat sharingnya di blog ini. Salam pena!
Anonim mengatakan…
membaca membuka wawasan kita semakin luas ... good artikel

brian
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Brian, saya sangat sepakat dengan pendapatmu, seperti juga sudah disinggung di dalam artikel saya di atas. Ya, terimakasih buat apresiasinya terhadap tulisan ini. Mari membaca! salam hangat :-)
Nasri mengatakan…
tulisan dan isi yang bagus mas,..
yang dioleh dengan sedemikian rupa sehingga renyah untuk di baca&mudah di pahami,.
kegitan membaca memang sangat penting bagi orang yang berfikir, sebagaiman yang telah di tegaskan oleh Allah dalam firmannya di dalam Al-Qur'an,..
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Saudara Nasri betul sekali, Allah memerintahkan umatnya untuk membaca (iqra'). Dalam Alquran, bisa kita temukan kata-kata iqra' (perintah untuk membaca). Kata iqra' diambil dari kata qara'a yang berarti menghimpun, bisa juga diartikan dengan kata menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, atau mengetahui ciri sesuatu. Ini bisa ditemuka dalam QS 96:1 dan 3, Allah memerintahkan kepada umat manusia beberapa kali untuk membaca, kegiatan membaca bisa dalam bentuk membaca teks yang tertulis atau pun konteks yang tidak tertulis. Maka selayaknyalah mari kita terus membaca sebagai sebentuk ketaatan kita pada peritah Tuhan. Terimakasih Nasri atas apresiasinya pada tulisan ini. Semoga bermanfaat.
Genthonk Genthink mengatakan…
kalo saya boleh berkomentar,
sejujurnya saya gak baca keseluruhan isi artikelnya. pertama mungkin saya tidak terlalu suka membaca sesuatu yang menurut saya terlalu kaku. mungkin info yang disampaikan penting, tp cara penyampaiannya membuat saya yang gak suka baca semakin malas untuk membaca. tidak bermaksud jahat atau bagaimana, kdang budya membaca perlu dilestarikan, tapi kadang gagal karena cara penyampaiannya tidak bisa membuat kami yang tidak suka membaca ini tertarik

maaph ya sebelumnya, semoga selalu sukses dalam hal menulis.
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Terimakasih Genthonk buat sharingmu pada tulisan ini. Genthonk tidak salah, setiap orang memang memiliki banyak alasan untuk tidak suka akan bacaan tertentu. Seandainya Genthonk terlebih dahulu menyelesaikan bacaan terhadap tulisan ini maka Genthonk akan menemukan empat modal bagaimana seorang bisa menjadi pembaca yang baik. Ini saya tuliskan kembali; yaitu, Pertama, seorang pembaca harus memiliki modal pengetahuan dan pengalaman. Dengan modal inilah kemudian, apabila seseorang membaca tulisan yang ada bisa dengan mudah menangkap isi tulisan karena sudah punya cukup pengetahuan; Kedua, seorang pembaca harus memiliki kemampuan berbahasa/kebahasaan. Arinya apabila kosa kata yang dimiliki si pembaca sangat minim tentu dia akan sulit memahami tulisan yang dibaca, terlebih apabila terdapat kata-kata ilmiah yang belum pembaca pahami arti kata yang terdapat dalam tulisan; Ketiga, seorang pembaca harus memiliki pengetahuan tentang teknik membaca. Pada tahapan inilah seorang pembaca bisa menerapkan beberapa cara untuk bembaca. Bagi pembaca yang sudah sering membaca dan sudah banyak melahap buku (bacaan), tentu dalam membaca tidak terlalu butuh membaca secara mendalam tapi membaca dengan cara cepat, berbeda sama sekali dengan pembaca yang jarang sekali membaca, tentu terkadang butuh mengulang beberapa kali dalam membaca agar bisa menangkap isi tulisan yang ada. Keempat, seorang membaca harus mengetahui tujuan membaca. Lah, di sinilah Genthonk perlu pahami, bahwa mungkin saja kamu malas membaca karena kamu tidak memiliki tujuan yang jelas terhadap bacaan yang ada. Sehingga kamu seperti tidak merasa butuh dengan isi tulisan yang ada. Dari sinilah akan tampak Genthonk merasa malas untuk membaca. Saran saya buat Genthonk, miliki rasa ingin tahu terhadap tulisan, jika kamu ingin tertarik untuk membaca. Tambahan lagi, mungkinkah faktor tulisan di sini terlalu kaku yang menyebabkan Genthonk tidak suka membacanya? jawabannya; bisa saja. Karena, tulisan ini memang saya tujukan untuk kalangan akademisi, yaitu tulisan berbentuk opini/artikel yang menggunakan bahasa baku (kategori Article Education). Terakhir, masih ingatkan dengan kasus belakangan ini yang heboh di media Indonesia dengan temuan buku yang dianggap 'cabul' di sekolahan SD di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ternyata ketika diselidiki, bahwa buku tersebut adalah buku 'nyasar', yang seharusnya dibaca oleh kalangan SMA ke atas ternyata di taruh di perpustakaan SD, yang belum waktunya kalangan SD mengkonsumsinya. Dari sini bisa saya ambil benang merah bahwa tulisan/bacaan tertentu memiliki pasar tersediri, yaitu memiliki kalangan pembaca tersendiri seperti juga tulisan ini. Selamat membaca :-)
Penulis Pemula mengatakan…
Saya juga apresiatif dengan tindakan yang dilakukan oleh LSM AS tersebut. Kita sebenarnya juga bisa melaksanakan. Bahkan, Pemerintah Daerah sudah memberikan anggaran cukup besar untuk pengembangan perpustakaan daerah. hanya saja anggaran besar tersebut tidak terpantau oleh rakyat. sehingga mudah disalahgunakan.
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Terimakasih buat Penulis Pemula atas apresiasinya terhadap program peningkatan minat baca seperti yang dilakukan LSM AS. Betul, masyarakat kita juga bisa melakukan hal yang sama dengan yang dicontohkan LSM AS. Dan sebenarnya, ada banyak juga pemrakarsa yang telah melakukan dengan cara membangun Rumbel (Rumah Belajar) untuk anak-anak, yang di dalamnya terdapat buku-buku untuk dibaca oleh kalangan masyarakat terutama untuk anak-anak sekolah. Menanggapi Penulis Pemula, yang menuliskan bahwa Pemerintah sendiri sudah memberikan anggaran cukup banyak akan tetapi sering tidak terpantau yang kemudian mudah disalah gunakan, maka sudah selayaknya masyarakat tidak selalu menunggu dari pemerintah, perlu peran serta semua pihak untuk mengatasi kemandekan-kemandekan program pemerintah dalam hal penanaman minat baca, seperti halnya yang dilakukan LSM AS.
ayu mengatakan…
hhhmmm... aku tipikal orang yang jarang baca buku lho.. soalnya kalo beres baca buku cuma jadi "tutup buku" mah gak asik.. kalo bisa ada temen brain storming dan dapet hal-hal baru yang bikin curious bisa jadi ketagihan baca buku.. hehehe..
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Ayu, ada salah satu cara yang bagus buat kamu terapkan dalam meningkatkan budaya baca, yaitu dengan cara bedah buku (sharing). Jadi, satu buku dibaca oleh beberapa orang, tapi kamu tetap akan memahami isi buku itu secara utuh, jadi tugasnya adalah apabila kamu punya satu buku dengan lima bab, maka satu orang harus membaca satu bab yang berbeda perorang. Setelah itu tinggal cerita deh satu sama lain mengenai isi buku yang mereka baca. Pasti akan menarik. Selamat mencoba :-)
mashudi mengatakan…
sekarang, kalau boleh saya sebut, adalah era refresnsi, kita di tuntut untuk membudayakan baca, karena kata atau tulisan yang tidak berdasarkan refrensi yang valid tidak diterima, bahkan dikatakan mengada-ada. membaca buku merupakan salah satu yang bisa dijadikan bahan refrensi.

Dalam membaca buku, harus ada filterisasi dari kita, saya sepakat, bahwa membaca bukan hanya menghafal melainkan memahami dan mengkritisi, yang dalam bahasa anda kreatif-kritis, karena disadari atau tidak, masih banyak orang yang pemahamannya tekstual, dan itu tidak baik, malahan tidak menambah skill kita. Saya teringat pada perkataan Abu Hamid al-Ghazali “Duh, saudaraku! Ketahuilah bila anda pergi untuk mengetahui kebenaran lewat para tokoh tanpa mempergunakan pandangan anda, maka akan sia-sialah pandangan anda. Sebab, para ilmuwan yang berkaliber tokoh, bagaikan matahari atau cahaya yang menyinari. Kemudian lihatlah pandangan anda, bila anda buta apalah artinya matahari atau cahaya. Karena itu barang siapa yang bersikap mengikut ia akan hancur”.
__
Salah satu penyebab tidak maju-majunya Indonesia adalah kurangnya budaya membaca, sehingga SMD tidak mendukung untuk mengelola SDA yang melimpah ini. Saya ajungkan dua jempol buat LSM AS yang telah membantu masyarakat indonesia untuk meningkatkatkan motivasi membaca dengan membangun perpustakaan di beberapa daerah, walau tidak menyeluruh, hehehehe
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Mashudi, terimakasih buat komentar dan sharingnya di sini. Iya betul, buku bisa menjadi referensi. Dengan bukulah kita bisa tahun tentang banyak hal, bahkan, untuk mengetahui sejarah di masa lalu kita bisa memahami lewat buku.

Iya, disaat membaca, seseorang tidak hanya dituntut untuk membaca, tapi juga dituntut untuk mengkritisi. Karena, ada juga buku yang bisa saja menyesatkan, makannya butuh filterisasi seperti apa yang dibilang Mashudi sebagai benteng diri.

Sepantasnyalah kerja-kerja sosial seperti yang dilakukan LSM AS, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terus didukung. Lewat gerakan gemar membaca. :-)
penausang33 mengatakan…
Yap bro, tapi kayanya anak sekarang lebih gemar gaming ama onlen ketimbang membaca
Najamuddin Muhammad mengatakan…
harus di akui budaya baca kita memang lemah. saat ini kita butuh terobosan baru untuk membumikan budaya baca di kalangan masyarakat,,,,perpustakaan daerah yang diharap jadi rumah baca tak berjalan mestinya...karena notabene perpustakaan itu hanya ada di jantung perkotaan, minim akses mereka yang tinggal di pelosok pedesaan...meski ada itu bak mati suri. untuk itulah saya kira penting dengan adanya LSM ini untuk membuat terobosan baru membumikan budaya baca tidak hanya berpusat pada perkotaan, tapi juga diiring dengan langkah kongkrit di pedesaan, layaknya mengadakan perpustakaan keliling dengan kemasan baru yang membuat anak-anak tertarik atau rumah baca dan semacamnya.... tulisan tulisanb M Nurul ini saya kira menjadi angkah awal untuk memulai semua itu....
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Sahabat Penausang33. Kegemaran anak-anak saat ini di dunia on line, tidak seharusnya selalu dikonotasikan kepada hal-hal negatif. Dunia on line sebenarnya sangatlah bagus jika dipergunakan sebaik mungkin. Seperti halnya membaca, bahwa membaca tidak harus membaca buku berbentuk cetakan akan tetapi bisa lewat buku-buku on line atau e-paper. Beberapa perpustakaan saat ini sudah menyediakan fasilitas e-paper, yang siap memanjakan para pembacanya. Ayo semangat membaca! :-)
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Najamuddin Muhammad. Betul sekali, belum besarnya minat baca di kalangan masyarakat Indonesia, perlu terus didorong lewat terobosan-terobosan baru. Setiap usaha-usaha yang sudah ada perlu terus didorong dan dilakukan pembaharuan. Tentu, langkah LSM AS sudah sangat bagus, dan saya sebagai masyarakat Indonesia berharap, terus dijalankannya program ini sampai di pelosok-pesok negeri yang sangat membutuhkannya. Mari tuntaskan buta huruf ke pelosok-pelosok negeri! :-)
Andreas Anindita mengatakan…
Membaca itu adalah jembatan ilmu . Jdai perlu dilestarikan mas...
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Betul Andreas, membaca perlu di lestarikan. Tepatnya, membaca adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. :-)
Nanang B Subekti mengatakan…
Untuk menjadikan membaca sebagai bidaya diperlukan sebuah kebiasaan untuk senang membaca. Jika masyarakat lebih senang membaca daripada gosip maka dengan sendirinya membaca akan menjadi budaya. Karena ini menjadi suatu budaya, pendidikan formal sebaiknya mengarahkan peserta didiknya untuk senang membaca.
M Nurul Ikhsan Saleh mengatakan…
Betul sekali pak Subekti. Membangun budaya membaca seperti layaknya membangun karakter seseorang, butuh pembiasaan. Saya pun ketika masih kuliah, sering membawa buku ke kampus untuk kemudian saya baca di kala ada waktu-waktu senggang. Tidak terasa belakangan, saya seperti sangat senang sekali membaca. Mari membiasakan membaca dari diri sendiri, keluarga sampai kepada masyarakat seperti yang dilakukan LSM AS dengan cara menyediakan perpustakaan. Terimakasih atas kunjunjugannya di blog ini. :-)
Kartika D. Astuti mengatakan…
Lalu bagaimana dengan buku bacaan yang lebih bersifat fiksi..???
Apakah bacaan tersebut juga mempunyai peran penting dalam ranah manfaatnya..??
meskipun hanya sekedar sebagai hiburan semata, tapi untuk beberapa orang buku bacaan tersebut bisa bernilai lebih dari sekedar hiburan..
Khususnya bagi yang gemar menulis cerita fiksi, bisa dijadikan sumber kajian dan pembelajaran untuk kedepannya..
Feri mengatakan…
sungguh mulia usaha membudayakan masyarakat untuk gemar membaca

Postingan Populer